PARENTING KELAS ORANG TUA KELOMPOK B4 TK NEGERI PEMBINA

PARENTING, PERSIAPAN ANAK MASUK SD: Tips dari Orang Tua untuk Orang Tua.

Alhamdulillah. Parenting perdana pada semester 2 kelas orang tua dari Paguyuban orang tua kelompok B4 berjalan lancar dan hidmat.
      Berdasarkan program yang telah disepakati, kegiatan Parenting kelas orang tua kelompok B4 diadakan setiap bulan. Pada semester 1 kemarin kegiatan parenting berjalan selama 5 kali. Hanya pada bulan November yang tidak terlaksana dikarenakan beberapa kegiatan dan kesibukan, serta adanya perubahan iklim dan bencana alam di kota Padang Panjang dan beberapa wilayah di Sumatera Barat.
      Sesuai rencana semula parenting kali ini  diadakan pada hari Sabtu tanggal 24 Januari 2026. Berhubung bersamaan dengan parenting sekolah, maka kegiatan diundur menjadi hari Rabu tanggal 28 Januari 2026. Pertimbangan ini dikarenakan hari Rabu anak pulang lebih cepat sesuai jadwal kegiatan guru mengikuti KKG. 
     Kehidmatan diperoleh karena biasanya saat parenting anak-anak berada juga dalam kelas. Meski anak-anak diberi kesibukan bermain sendiri, akan tetapi tetap dalam satu ruangan, yaitu di kelas bagian belakang, yang kadang kala terdengar dan memecah konsentrasi orang tua saat kelas parenting berlangsung.
    Kali ini orang tua berkegiatan dalam kelas, anak-anak istirahat makan dan bermain di pendopo ditemani bu Fani. Orang tua terlihat lebih fokus. Saat diberi pemantik masih banyak yang malu-malu untuk menanggapi dan bertanya, namun akhirnya muncul juga tanggapan orang tua yang memantik diskusi selanjutnya.
    Materi kali ini tentang "Pentingnya Kolaborasi Orang Tua dan Guru dalam Mendukung Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan". Setiap anak dalam masa golden age (masa keemasan) memiliki potensi hebat. Jika pada masa emas anak mendapatkan stimulasi, fasilitas, perhatian dan pendampingan yang konsisten dalam bermain dan belajar, maka akan berdampak positif dalam tumbuh kembang anak.
     Otak anak usia dini ibarat spoon. Sekecil apapun yang masuk dalam otak anak usia dini dari pendengaran penglihatan, pikuran dan rasa melalui panca indra dan pengalamannya baik positif maupun negatif, jika dilakukan berulang-ulang akan diserap oleh otak anak. Persiapan masuk SD bukan sekedar bidang akadamik atau calistung (membaca, menulis, berhitung) saja. Para orang tua dan guru anak usia dini perlu memperhatikan aspek kesiapan belajar.
    Aspek yang sangat krusial dalam kesiapan belajar anak meliputi pengelolaan emosi, sosial, kemandirian anak dan lingkungan rumah yang suportif serta menjalin komunikasi aktif antara orang tua dan guru. Terlebih lagi pada pembiasaan nilai-nilai agama dan akhlak. 
     Dalam piramida belajar anak usia dini, kemampuan membaca, menulis dan berhitung itu berada pada kemampuan teratas pada anak usia dini. Kemampuan mengelola emosi, sosial, kebutuhan akan gerak atau motorik kasar dan motorik halus berada pada level paling dasar. Setiap anak membutuhkan pelayanan pembiasaan dan latihan sesuai dengan kebutuhannya.
   Diantara contoh emosi, sosial dan kemandirian anak adalah anak telah mampu mengenal dan mengelola emosinya dengan baik, mampu bersosial dengan teman dan orang lain dengan baik, tidak merengek dan berteriak-teriak saat meminta sesuatu, mampu toilet training sendiri dengan bersih, bisa bertanggung jawab dengan milik sendiri, telah terbentuk disiplin dengan waktu-waktu tertentu seperti saat mandi pagi dan sore, saat beribadah, saat pergi sekolah, saat pulang sekolah, saat makan dan tidur siang, meletakkan sesuatu pada tempatnya, memiliki empati pada orang lain, berangsur-angsur melatih fokus, dan tidak memaksa minta bermain gadget. Jika telah demikian, maka kesiapan belajar anak usia dini akan dapat meminimalisir kendala anak mengikuti pembelajaran selanjutnya.
     Pengalaman di TK  memberikan pengenalan melalui berbagai kegiatan yang menyenangkan agar saat di SD nanti anak siap dan tidak kaget. Jangan sampai anak mengalami lompatan yang sangat berbeda, yang membuat anak trauma, atau ingin kembali ke TK.
     Orang tua tidak perlu cemas atau takut menghadapi anak masuk SD karena anak belum mampu membaca, menulis dan berhitung. Orang tua dapat memberikan kegiatan seperti di sekolah dengan cara enjoy dan anak dalam suasana gembira. Persiapannya dapat dilakukan dengan bermain, bercerita, dan ngobrol di rumah, sering bertanya apa yang diperoleh di sekolah, jika berjalan-jalan ke tempat lain atau setiap berangkat sekolah anak diajak membaca 1 kata yang ditemui secara terus menerus. Bisa juga dengan mengingat huruf depannya apa, lalu coba cari huruf yang sama dalam plang toko atau kantor yang ditemui. Misal "toko buku". Jika setiap hari melihat tulisan itu, anak akan mengingat lebih baik, juga bermain matematika gembira.
     Biasakan juga membacakan buku untuk anak setiap hari, atau setiap mau tidur. Membeli buku sesuai bujet yang ada, belikan buku yang ada cerita misal tentang adab anak, cerita Nabi dan rasul, misteri alam semesta, mengapa begini mengapa begitu, cerita kesehatan diri, atau cerita binatang. Jika ada rejeki akan lebih bagus membaca buku ensiklopedia. Banyak wawasan yang menstimulasi daya pikir anak baik nilai agama, moral, sosial dan kognitif anak. Buku cerita dapat menanam nilai-nila karakter yang akan dapat ditirukan anak. Berikan juga buku cerita bergambar, beri kesempatan anak berimajinasi menceritakan gambar yang ada. Apresiasi untuk anak akan memberi motivasi kuat bagi anak sebagai pecinta buku. 
      Perhatian orang tua akan menjadi kunci keberhasilan dalam proses belajar anak. Jangan sampai hanya diserahkan kepada guru di TK tanpa perhatian dan stimulasi di rumah. Perhatian yang cukup dari orang tua, akan membentuk karakter percaya diri, berprestasi, cerdas dan sukses dalam perjalanan belajar selanjutnya. Insyaallah.
   Terimakasih bapak ibu wali murid hebat yang telah bekerjasama dan hadir dalam parenting ini. Paguyuban kelasnya keren. Snackpun lengkap tersedia. Berkah selalu bapak ibu...🥰🤲

Buku akan membuka wawasan dan menambah ilmu yang terbaik bagi anak.

Komentar

Postingan Populer