pelajaran Jumat berkah
26 Januari 2020
Menarik perhatian anak dengan ungkapan yang lembut.
DHANI MENUSUK MATA ESTU
Jumat pagi… sekitar pukul tujuh waktu kota setempat aku tiba di sekolah. Kedua guru telah datang lebih awal dariku. Beberapa anak telah sampai lebih dulu. Guru piket yang menyambut kedatangan anak di gerbang sekolah saat itu adalah bu Fitri. Sementara guru yang lain bertugas menjaga dan mengawasi anak-anak bermain di posko mainan masing-masing dihalaman, sebelum masuk kelas.
Seingatku ada lima anak sudah bermain di halaman, yang terletak di sebelah kiri gedung sekolah, kami istilahkan dengan halaman bawah, karena memang tempatnya lebih rendah dari pada halaman depan sekolah.
Baru saja aku akan memasuki bibir halaman bawah, tiba-tiba datanglah dua anak perempuan cantik, bersih dan rapi, yang satu badannya agak gemuk bernama Dina, dan yang satu lagi agak langsing bernama Anis. Dengan semangat berkorbar bercerita, “bu guru, Estu menangis. Dhani menusuk mata Estu. Estu menangis, bu!”
Aku mendengar dan memandang kedua anak tersebut sambil tersenyum. Niatku akan bersalaman dengan anak-anak yang datang lebih dulu. Kudekati mereka sambil kulayangkan pandanganku mencari anak yang menangis.
Aku dan ibu guru lainnya terus melatih anak-anak berpikir kritis dan kreatif ,agar anak-anak dapat memecahkan sendiri masalah sederhana yang terjadi. Bila ada kawan yang salah atau lupa hendaknya diingatkan atau dinasehati. Bukan diejek, ditertawakan atau dikadukan kepada ibu guru. Sesame teman hendaknya saling menyayangi dan memaafkan. Namun kali ini, insiden pagi. Jika ada yang menangis, mungkin ada yang sakit, biasanya kasusnya agak sedikit berat. Membutuhkan perhatian dan ibu guru harus turun tangan. (Waaah… seperti kasus yang akan dimeja hijaukan… ala anak-anak…).
Dina menggandeng Anis, sambil berjalan dan terus berbicara. Mereka saling menguatkan cerita seakan membela Estu, teman perempuannya yang menangis. Sementara Dani mengikuti dari belakangnya menuju tempatku berdiri, sambil tersenyum mendengar kawannya mengadukan dirinya, memainkan jemarinya dengan menautkan kedua tangannya. Namun, saat volume suara Dina semakin bertambah, lama kelamaan raut wajah Dhani berubah.
Dhani langsung membela diri dan menjawab dengan suara lantang. Dhani mulai terpancing emosi. Akhirnya suaranya lepas control.
“Dia mentertawakanku, aku dibilangnya gendut. Aku memang gendut! Biarlah aku gendut, tapi aku kuat!” Bibir Dhani menari dengan lincah dan jelas, bola matanya berlari-lari kadang menantapku, kadang pula menatap Dina dan Anis. Dina dan Anis langsung terdiam, terlihat jelas Dina dan Anis ketakutan, cemas jika si Dhani akan memukulnya.
Sambil aku mendengar cerita Dhani, datanglah anak yang lain satu demi satu bersalaman. Datang pula seorang ibu guru bernama bu Sari. Ibu Sari pun tersenyum mendengar suara Dhani, karena kami sudah mengenal beberapa karakter masing-masing anak. Sambil berbisik, kami sama-sama lupa tidak membawa hape saat bermain.
Akupun mulai menanggapi mereka. Aku bertanya kepada Dina dan Anis, “benarkah Dani menusuk Estu?”
“Iya, bu! Tadi saat bermain, Dhani menusuk mata Estu. Tepat di bola mata yang hitamnya, bu.” Jawab mereka. Sementara Estu ditinggal bersama kawan yang membujuknya.
Aku menanggapi mereka dengan tenang, dan tidak boleh turut terbawa emosi. Hari masih pagi, suasana harus damai dan bahagia. Mood dipagi hari harus dijaga, agar energi yang tersimpan dapat dimanfaatkan dengan baik dalam kegiatan bermain dan belajar berikutnya.
Akupun bertanya kepada Dhani, “benarkah Dhani menusuk mata Estu? mengapa Dhani menusuk matanya?” Sambil perlahan kulangkahkan kaki menuju tempat Estu, Estupun dibimbing kawan berjalan menujuku.
“Tertusuk, bu. Aku sedang bermain ayunan. Dia mentertawakanku dan bilang aku gendut,” jawab Dhani. Akupun masih tetap tersenyum, karena aku juga telah mengenal perkembangan berbahasa Dhani sangat bagus.
Lalu kutanya lagi Dina dan Anis. ‘Benarkah Estu mengejek Dhani? Mereka menjawab sambil memandang satu dengan yang lain. Seperti akan membela Estu, dengan berkata, “tidak! Estu tidak mentertawakan, tidak mengatakan begitu, bu.”
“Iya!” jawab Dhani kembali.
Anak-anak yang lain semakin banyak berdatangan bersalaman dengan bu guru dan bermain. Entah mengapa, anak-anak yang bermasalah tadi mundur teratur dan bermain berbaur bersama teman. Anehnya, Estu yang bermasalah tidak mendatangiku. Lalu aku yang mendekati Estu. Kupegang pipinya, kulihat matanya, aman dan tidak memerah.
“Estu sakit, nak?” tanyaku. Ia hanya mengangguk, tapi tidak menangis lagi. Alhamdulillah, tidak apa-apa, aman. Mau bermain? Silahkan…”
Kami melanjutkan menjaga dan mengawas anak-anak bermain agar aman, gembira dan tidak terjadi kecelakaan lagi. Mereka bermain, ada yang tersenyum, bergandengan tangan dengan kawan sambil berjalan, ada juga sambil berlari, berayun, bermain jungkit-jungkit, memanjat, dan berkejaran.
Saat masuk kelas pun tiba. Anak-anak berlarian gembira akan berbaris membaca ikrar pagi. Dhani berjalan di sampingku, sambil kuiringi, aku memegang tangannya dan kutahan berdiri di dekatku. Lalu kupanggil Estu, dan kedua teman yang mengadukan. Bu Silvi membantu memanggilkan Dina dan Anis. Aku berharap kejadian serupa tidak terulang. Saat mereka berkumpul di depanku, aku mulai bertanya. Pertama kutanya Dhani.
“Dhani, kejadian tadi pagi, sebenarnya bagaimana? Benarkah Dhani menusuk mata Estu?” “Tidak, bu. Tertusuk aja nyo.” (maksudnya, hanya tertusuk saja).
“Tertusuk? Kejutku. Kok bisa? Tertusuk itu, jika kita tidak sengaja. Contoh, tangan Dhani seperti ini. Kuperagakan kesepuluh jemariku melengkung kedepan. Nah, kalau jari Dhani seperti ini terus, enggak bisa ke bawah, sambil berjalan terus begitu, lalu tidak sengaja ada kawan lewat, kena matanya, baru itu tertusuk namanya. Tapi kalau tangan Dhani kebawah, lalu diarahkan ke mata teman, namanya Dhani menusuk, Estu ditusuk. Bukan tertusuk. Jadi, Estu tadi ditusuk Dhani atau tertusuk?”
Dhani memahami maksudku. Dengan sadar dan menerima, Dhani mengangguk dan menjawab dengan suara lirih, “Dhani yang menusuk, bu.”
Lalu kutanya Estu. “Estu, mengapa Dhani menusuk mata Estu? Benarkah Estu menggalakkan (mentertawakan) Dhani?”
Estu masih belum menjawab, tapi Dina dan Anis yang menjawab, “tidak, bu. Estu tidak menggalakan. Dhani aja yang menusuk.”
“Eh, kok Dina dan Anis menjawab? Ibu bertanya kepada Estu. Maaf, ya? Estu yang ibu tanya, jadi Estu yang menjawab. Ok?”
Estu nampak kebingungan akan menjawab apa. Ia masih diam. Lalu menjawab, dengan nada pelan dan nampak ragu, “tidak.”
“Ingat, sayang. Allah maha mendengar. Allah sayang anak yang jujur, jujur seperti Nabi Muhammad. Estu mau disayang Allah?” Perlahan Estu mengangguk. Bu guru dan teman-teman juga sayang kepada anak yang jujur. Bu guru minta maaf ya sayang, karena bu guru tidak tahu kejadiannya. Estu, anak yang cantik dan jujur. Semoga Allah menyayangi Estu. Mengapa Dhani menusuk mata estu? Benarkah Estu mentertawakan Dhani?”
“Iya.” Estu menjawab dengan lirih sambil mengangguk malu, .
“Lalu, benarkah Estu mengatakan Dhani gendut?”
“Iya.” Estu mengakui dengan sepenuh hati. Kedua temannya yang membela terdiam, hanya menyaksikan.
“Estu, yang menciptakan kita gemuk atau kurus, siapa?”
keempat anak mejawab bersama-sama, “Allah”
“Bolehkah kita mengejek ciptaan Allah? mengejek teman kita?”
Bersam-sama juga mereka menjawab, “Tidak.”
“Estu, ingat-ingat, kawan tidak akan mengganggu kita, kalau kita tidak mengganggu lebih dulu. Kita harus saling menghargai. Besok lagi, Estu tidak boleh mentertawakan Dhani lagi ya nak? Tidak boleh juga kepada teman yang lain. Agar kawan tidak menyakiti kita, maka kita juga tidak boleh mengganggu. Semoga tidak terulang kembali. Ok, sayang?” sambil kuacungkan jempol pada Estu.
“Untuk Dhani, kalau Dhani memang gendut, dibilang gendut oleh teman, kenapa marah? Dhani harus bersyukur, karena Dhani yang diberi gemuk dan kuat oleh Allah. Alhamdulillah… aku gendut. Allah memberiku kuat dan sehat. Aku bisa menolong teman yang butuh pertolongan. Gitu. Jadi tidak usah cepat marah, ya nak?” kita harus saling memafkan. Apalagi kepada kawan perempuan. Badannya lebih kecil lagi, kita harus saling menyayangi.
“Iya, bu.” Sambil senyum-senyum simpul, Dhani menunjukkan kesyukuran karena badannya gemuk dan sehat.
Untuk Dina dan Anis, tidak usah cepat mengadu ya nak? Kalau tidak melihat langsung, tidak baik membuat berita yang tidak benar. Kita harus berkata jujur. Kalau kawan lupa atau salah, kita ingatkan, kita nasehati, dan jika ada yang sakit atau sedih, kita tolong dulu, lalu kita hibur, kita ajak bermain kembali. Kalau akan memberi tahu ibu guru, dengan suara lembut, tidak berteriak. Agar kawan dapat mengelola emosi dengan baik… Oke? Terimakasih sudah memberi tahu ibu guru ya, nak…
Hari ini kita belajar mengelola emosi dengan wajar, jujur, saling memaafkan, memecahkan masalah sederhana, menghargai dan menyayangi teman. Silahkan bersalaman dan minta maaf. Tidak diulang lagi, ya… sudah?”
“Sudah”.
“Seneng?”
“Seneng.”
“Gembira?”
“Gembira.”
Alhamdulillah, masalah selesai, hati lapang dan aman. Kami pun saling tos, merekapun saling memaafkan. Lalu berlari menuju tempat teman berbaris membaca ikrar pagi di depan kelas.
“Horee!!!”
Pengalaman dan pemandangan yang sangat berharga. Semoga menjadi awal yang indah di hari Jumat penuh berkah.
Komentar
Posting Komentar