Peran pendidikan

Peran Pendidikan dalam Perkembangan sosial Anak Usia Dini.

Ibarat sebuah bangunan, maka pendidikan anak usia dini adalah fondasi.
Semakin kuat fondasi, maka kokoh dan teguhlah bangunan yang ada di atasnya.

Manusia sebagai makhluk sosial, tentu saja akan dihadapkan dengan beragam warna dan perbedaan di luar dirinya.Harapannya, keinginannya, kemauannya, pikirannya, cita-citanya dan apa yang ia merasa jadi miliknya.

Agar kehidupan manusia menjadi harmonis, damai dan berputar hingga akhir zaman, sudah barang tentu dibutuhkan kematangan dan kedewasaan dalam memandang dan berpikir menghadapi apa yang ada.

Kedewasaan tidaklah didapat semudah membalik telapak tangan. Hal tersebut memerlukan proses panjang yang memakan waktu, tenaga, pikiran dan seluruh komponen yang mempengaruhinya.

Sifat-sifat ego, mau benar sendiri, mau hebat sendiri, mau berkuasa sendiri, mau menang sendiri, mau, mau, dan mau. Seiring dengan usia, seharusnya semakin berkurang dan semakin tenang.

Alangkah sangat aneh, heran, dan malu. Jika apa yang diterima anak di sekolah, untuk hidup rukun dan damai, sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi baik dalam penberitaan, media dan lingkungan sehari-hari.

Tentu muncul pertanyaan. Mengapa terjadi demikian? Sejak kapan bangunan itu goyah? Adakah gempa atau tsunami yang menggoncangnya? Atau hanya angin sepoi-sepoi saja, bangunan yang kokoh itu retak? Bahan bangunannya kah? Fondasinya kah?

Begitu banyak hal yang mempengaruhi type dan sosial manusia.

Terutama pendidikan.
Tiga tungku sejarangan.
Formal, informal dan non formal.
Peran yang sangat penting adalah, orang tua atau keluarga. Bagaimana menyikapi perbedaan anak sejak lahir. Mengenalkan kepada diri dan saudara.
Menghadapi perbedaan dan keinginan akan makanan kesukaan, mainan, warna dan model pakaian, dan sebagainya.

Guru anak usia dini di sekolah. Bagaimana menghadapi anak dengan latar belakang ekonomi orang tua yang berbeda.
Anak dengan temperamen tinggi. Anak yang suka minder dan memendam rasa karena terus ditekan orang tua. Anak yang minta diperhatikan dan dilayani sendiri. Anak yang suka mengejek teman. Tidak menghargai teman. Ayahku pemulung sampah. Ayahku dokter. Ayahku tukang ojek dan sebagainya.
Bukankah semua bermanfaat. Tukang ojek mengantar orang supaya cepat sampai. Dokter berjasa membantu mengobati orang sakit. Pemulung sampah menjadikan lingkungan bersih dan bermanfaat. 
Bagaiman guru melerai dan mendamaikan hati anak. Menyayangi dan mengenalkan, serta menyadarkan bahwa selama dunia ada, perbedaan tak pernah musnah dari kehidupan.
Bagaiman kita menerima perbedaan dan menghargai perbedaan. 

Lingkungan dan semua yang ada. Hendaklah turut serta menahan dan menjaga, apa yang akan dilihat, didengar, dipikir dan disimpan oleh anak usia dini. Sebab itu mempengaruhi apa yang akan dilakukannya jika kelak mereka dewasa.

Mari kita melatih anak usia dini untuk mengenal bahwa makhluk sosial tidak akan bisa hidup sendiri. Tidak akan kenyang dengan mencaci dan menghina kawan. Tidak akan damai jika berebut mainan dan memukulnya hingga kawan menangis.

Perbedaan adalah sunnatullah. 
Mari hidup damai.
Agar anak-anak kelak dewasa menjadi insan yang melukis pelangi kedamaian di alam semesta. 
Nabi Yunus (Yƫnus):99 - Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

22 April 2019

Komentar

Postingan Populer