berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi.
Guru diharapkan memahami, mengikuti dan menuntun serta membimbing anak didiknya.
Memahami potensi yang ada setiap individu anak, adalah seni dan keasyikan.
Selama pembelajaran, dan disetiap saat guru diharap jeli mengamati perkembangan anak. Itulah perpunya asesmen diagnostik anak.
Coba bayangkan, apa yang terjadi jika guru hanya sekedar mengajar di depan kelas, dwngan seperangkat RPP yang telah direncanakan?
Beberapa anak lain mengikuti apa yang diharapkan guru. Namun anak lain semangat juga, berusaha mengungkapkan, memvisualisasikan apa yang ada dalam pikirannya.
Jika anak-anak tersebut memperoleh perhatian, pengarahan dan pengembngan dari apa yang mereka miliki, dan yang terpwnting dari itu adalah anak dihargai, diapresiasi, dipuji dengan hasil karyanya, masyaallah... Apa yang terjadi kelak mereka dewasa ya? Mungkin akan menjadi peneliti dan penemu-penemu hebat.
Namun, aa pula yang terjadi, jika anak angsu g di kat. Dimarahi karena tidak menurut yang diminta guru. Dipaksa membuat seperti kata guru, seerti contoh guru? Ada juga yang beri label anak tidk pintar, tidak mendengar guru, tidak memperhatikan guru, dan lainnya?
Mungkin ank tersebut akan tertekan, terpaksa, sedih, minder, menngis, dendam, dan bahkan memiliki pengalaman yang kelam saat belajar.
Itulah manfaat pembelajaran berdiferensiasi.
Untuk itu, guru perlu terus belajar. Semua kita berproses membutuhkan waktu uantuk meaksanakan hal baru.
Dalam belajar semua hebat, dalam belajar semua saling berbagi. Guru pembelajar akan melahirkan murid yang cinta ilmu.
Salam generasi emas.
25 okt 2022

Komentar
Posting Komentar